2 Okt 2013

Alasan Kenapa Indonesia Miskin

Pengusaha Ciputra mengatakan, akar musabab kemiskinan di Indonesia bukan semata akibat akses pendidikan, karena hal itu hanya sebagian, melainkan karena negara tidak menumbuhkembangkan entrepreneurship dan jiwa entrepreneur dengan baik pada masyarakatnya.
“Kita banyak menciptakan sarjana pencari kerja, bukan pencipta lapangan kerja, itu membuat masyarakat kita terbiasa makan gaji sehingga tidak mandiri dan kreatif,” ujar Ciputra di hadapan peserta seminar “Entrepreneurship Inspiring Our Journey” yang digelar di SMA Kolese Kanisius, Jakarta.
Entrepreneur atau wirausahawan, kata pria yang akrab disapa Pak Ci’ ini, adalah seseorang yang mampu mengubah kotoran atau rongsokan menjadi emas. Dengan demikian, kata dia, negara selama ini hanya mencetak begitu banyak sarjana yang hanya mengandalkan kemampuan akademisnya, tetapi menjadikan mereka lulusan yang tidak kreatif.
“Malaysia punya lebih banyak wirausahawan daripada Indonesia, kini mereka lebih maju karena pendapatannya yang empat kali lebih besar dari Indonesia,” ujar Pak Ci’.
Sarjana pencari kerja
Makin banyak entrepreneur, sejatinya semakin makmur suatu negara. Ilmuwan dari Amerika Serikat (AS) David McClelland pernah menjelaskan bahwa suatu negara disebut makmur jika minimal mempunyai jumlah wirausahawan minimal 2 persen dari jumlah penduduk di negara tersebut.
Menurut Ir Antonius Tanan, Direktur Human Resources Development (HRD) Ciputra Group yang juga menangani Ciputra Entrepreneurship School (CES), bahwa pada 2007 lalu AS memiliki 11,5 persen wirausahawan di negaranya.
Sementara itu, Singapura memunyai 4,24 juta wirausahawan pada 2001 atau sekitar 2,1 persen. Namun, empat tahun kemudian jumlah tersebut meningkat menjadi 7,2 persen, sedangkan Indonesia hanya memiliki 0,18 persen jumlah wirausahawan.
“Negara kita terlalu banyak memiliki perguruan tinggi dan terlalu banyak menghasilkan sarjana, tetapi sayangnya tidak diimbangi dengan banyaknya lapangan kerja,” tandas Antonius.
“Akhirnya kita hanya banyak melahirkan pengangguran terdidik, tahun 2008 kita punya 1,1 juta penganggur yang merupakan lulusan perguruan tinggi,” ujarnya.
Data tahun 2005/2006, misalnya, lanjut Antonius, terdapat 323.902 lulusan perguruan tinggi yang lulus. Kemudian dalam waktu 6 bulan dari Agustus 2006 sampai Februari 2007, jumlah penganggur terdidik naik sebesar 66.578 orang.
“Generasi muda kita tidak memiliki kecakapan menciptakan pekerjaan bagi dirinya sendiri karena mereka terbiasa berpikir untuk mencari kerja,” ujar Antonius.
Manfaatkanlah kemampuan dan keahlian kamu, belajarlah untuk menjadi bos sendiri bukan mengejar bos, salam super beritaunik.net :D
Read More..

25 Sep 2013

MAG 2 Sosialisasi PNPM MPd 2014

Latar Belakang
MAD Sosialisasi (MAD-2) merupakan pertemuan antar desa untuk melakukan evaluasi pelaksanaan kegiatan yang sudah dilakukan, sosialisasi awal tentang tujuan, prinsip, kebijakan, prosedur maupun hal-hal lain yang berkaitan dengan PNPM Mandiri Perdesaan serta untuk menentukan kesepakatan-kesepakatan selanjutnya antar desa dalam melaksanakan PNPM Mandiri Perdesaan.

Isue2 Penting PNPM MPd TA 2014
-Perubahan Alur
-Penetapan Skema Integrasi Penuh (Tidak ada lagi pola Optimalisasi)
-Nilai Maksimal Usulan
-Usulan berbasis pengembangan kawasan (lintas gampong)
-Pengambangan PEP (Gampong wisata, Pasar Desa, BUMG) Misalnyan Gampong mempunyai usulan yg sama jd dapat digabung.
-Adanya pembatasan masa tugas UPK
-PNPM MPd harus mempunyai pengamanan sosial dan lingkungan hidup (sate guart/penjelasan IV) sehingga pembangunan tidak justru berdampak buruk pada pelestarian lingkungan hidup.
-Batasan nilai untuk pengadaan bahan dan alat sesuai harga di RAB (penjelasan tentang ini akan diberikan pada rakor berikutnya setelah PTO 2014 disahkan).


Tujuan Umum
-Memastikan kesiapan Gampong untuk mengkuti mekanisme dan prosedur PNPM MPd tahun 2014.
-Dikuatkan lagi komitmennya dalam pelaksanaan dan pemeliharaan aset PNPM Mandiri Perdesaan di masyarakat, baik berupa dana bergulir ataupun sarana pra sarana fisik. (Tahun 2014 nanti sesuai dengan Key Performan Indicator (KPI), pengembalian dana bergulir ; Simpan Pinjam Perempuan(SPP) minimal pengembaliannya 95 persen.

U M U M
“Selain itu pada tahun 2014 nanti akan dilakukan perbaikan sistem dan sekaligus penguatan peran dan fungsi kelembagaan lokal seperti ; Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD), Unit Pengelola Kegiatan (UPK), Badan Pengawas UPK (BP-UPK) dan lembaga lainnya. Hal ini dilakukan dalam rangka Penguatan Ekonomi Perdesaan (PEP) yang akan menjadi trend issue semua kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan di tahun 2014”.

AGENDA
1.Evaluasi program
2.Sosialisasi dan informasi PNPM Mpd tahun berikutnyaa
3.Disendiseminasikan informasi pokok PNPM Mandiri Perdesaan meliputi tujuan, prinsip-prinsip, kebijakan, pendanaan, organisasi, proses dan prosedur yang dilakukan.
4.Menginformasikan rencana program atau proyek dari kabupaten (bersumber dari yang benar-benar akan dilaksanakan di kecamatan, pada tahun berjalan dan pada tahun berikutnya.
5.Menginformasikan kebutuhan pelaku (TPK, TPU, KPMD, UPK dan PL, BKAD, Setrawan Kecamatan dan Tenaga Pelatih Masyarakat (TPM).
6.Memilih dan menyepakati dua orang peserta menjadi Ketua dan Sekretaris (Notulis) MAD yang akan bertugas hingga akhir PNPM Mandiri Perdesaan,
7.Menyepakati dan menetapkan aturan dan sanksi-sanksi yang harus diterapkan dalam pelaksanan PNPM Mandiri Perdesaan,
8.Menyepakati jadwal kegiatan musdes sosialisasi, pelatihan KPMD dan MAD prioritas usulan.
9.Menjelaskan kewajiban desa untuk menyusun dokumen RPJMDes dan RKPDes, yang dilaksanakan melalui kegiatan Perencanaan Pembangunan Desa (PPD).
10.Menyampaikan Perubahan kebijakan dasar pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan Menyepakati agenda kegiatan kegiatan yang akan dilakukan selanjutnya.

PESERTA
-Camat dan staf terkait,
-Pengurus BKAD pada lokasi lama
-Tim 6 terdiri Kades, BPD, perwakilan RTM, tokoh masyarakat, sekurang-kurangnya 3 orang perempuan)
-Wakil dari seluruh instansi sektoral kecamatan (ISK),
-Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM),
-Lima orang KPMD (Untuk Lokasi Lama).
-Komite Sekolah,
-Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)/Organisasi Massa (ormas),
-Anggota masyarakat lainnya yang berminat untuk hadir.

MATERI
1.Petunjuk Teknis Operasional,
2.Penjelasan 1 Petunjuk Teknis Operasional Kegiatan tentang Sosialisasi,
3.Penjelasan 3 Petunjuk Operasional Kegiatan tentang Musyawarah-Musyawarah PNPM Mandiri Perdesaan
4.Penjelasan 5 Petunjuk Teknis Operasional Kegiatan mengenai Tugas, Tanggungjawab dan Proses Pemilihan Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan.

MATERI LAIN DAN PEMAHAMAN YANG MEMADAI UNTUK FASILITASI
Untuk Panduan FASILITASI USULAN DAPAT DI DOWNLOAD :
1.PANDUAN FASILITASI KEGIATAN ANTAR DESA
2.PENGEMBANGAN PAKET INFRASTRUKTUR
3.PANDUAN FASILITASI PEMILIHAN KEGIATAN ANTAR DESA
4.Matrik Contoh Kegiatan Kawasan / Antar Desa
5.BAHAN TAYANG PENGEMBANGAN EKONOMI PERDESAAN
6.BAHAN BACAAN PEP

MATERI TAMBAHAN MAD SOS 2014
a.PEMAHAMAN DASAR PNPM MPd INTEGRASI
b.PTO P2MKM BAB III
Read More..

24 Sep 2013

Persiapan Fasilitasi Pertemuan

Pertama-tama yang ingin disampaikan disini adalah teknik–teknik dan persiapan yang diperlukan seorang pendampingan/fasilitator dalam mempersiapkan diri melakukan fasilitasi di pertemuan-pertemuan di masyarakat, pertemuan membahas kegiatan program, dan lain-lain. Persiapan-persiapan melakukan fasilitasi dalam pertemuan ini dapat dibagi kedalam 2 persiapan, yakni: (1) persiapan Teknis, dan (2) persiapan Pribadi. Persiapan-persiapan ini penting untuk dilakukan agar memberikan hasil yang efektif dan maksimal.

1.Persiapan Teknis:
Persiapan teknis yang dimaksud adalah “ Persiapan terhadap sarana-sarana fisik pertemuan “. Jika anda yang bertindak sebagai pengundang dan atau ikut sebagai panitia dan penanggungjawab untuk keberhasilan dan kesusksesan dalam pertemuan, maka berikut ini adalah hal-hal yang perlu disiapkan secara teknis yang dapat mendukung lancarnya pertemuan tersebut:
a.Ruang pertemuan
• Pilih ruang yang dapat menampung jumlah peserta yang diperkirakan hadir
• Pilih ruang yang punya sirkulasi udara relatif baik sehingga tidak menibulkan kegerahan saat pertemuan
• Pilih ruang yang cukup terang (jika pertemuan siang hari)

b.Tata letak pertemuan
Susun tempat duduk yang rapai dan bersahaja sehingga menimbulkan kenyamanan bagi peserta Musyawarah.

c.Sarana pendukung
Siapkan pengeras suara, OHP, papan tulis, penghapus, kapur atau spidol dengan teliti jika memang akan digunakan. Tentu saja jenis yang akan disiapkan disini berkaitan dengan materi yang akan disampaikan. Persiapan-persiapan ini akan menjadi lain jika anda diundang ke tempat lain dimana berbagai sarana pendukung ini mungkin tidak dapat disediakan. Jika memungkinkan lakukan kontak dengan pelaksana pertemuan jauh sebelum pertemuan terjadi sehingga anda dapat mempersiapkan materi dan media sederhana yang dapat dipakai.

2.Persiapan Pribadi
Yang dimaksud persiapan pribadi adalah persiapan anda sendiri sebagai pendamping/fasilitator yang akan memberikan penjelasan, membawakan materi, atau secara khusus diundang untuk menjelaskan suatu kegiatan.
Persiapan-persiapan pribadi yang harus diperhatikan antara lain adalah:
a.Pastikan bahwa secara fisik anda tidak terlalu lelah untuk mengikuti pertemuan tersebut. Oleh karena itu sebaiknya cukup istirahat paling tidak sehari sebelum pertemuan. Kondisi yang terlalu lelah sangat mempengaruhi penampilan anda, perhatian kepada peserta menjadi kurang, dan kemampuan mendengar atau berkreatifitas dalam berkomunikasi kurang maksimal, berbicara tidak fokus, dll.

b.Pastikan bahwa anda telah menyiapkan materi yang akan disampaikan, baik materi untuk anda sendiri (berupa catatan-catatan singkat) atau mungkin materi lain yang perlu dibagikan kepada peserta pertemuan.

c.Pastikan pula bahwa sudah cukup menguasai materi yang akan anda bawakan dihadapan masyarakat. Kurangnya penguasaan terhadap materi dapat menimbulkan kesan anda tidak serius, kegiatan dianggap masih kira-kira, anda dianggap tidak profesional, atau mungkin peserta gahkan tidak bisa menangkap maksud yang anda sampaikan.

3.Hal-hal yang perlu disiapkan atau diperhatikan saat berbicara:
a.Bicaralah tidak terlalu cepat, tenang, dengan kekuatan suara yang cukup, runtut.
Berikan jeda uraian, supaya setiap kali peserta dapat mengendapkan atau meresapkan apa yang diuraikan.

b.Berikan perhatian dan kesempatan bertanya sebisa mungkin kepada semua peserta, dan berikan sikap respect (perhatian.

c.Jawablah setiap pertanyaan yang muncul dari peserta sebaik-baiknya semampu anda bisa menjawab. Jika ada hal yang sungguh anda tidak bisa menjawab, beritahukan bahwa anda akan mencatat pertanyaan itu dan akan mencoba mencarikan jawaban yang pasti pada pihak-pihak lain yang mengetahui dan jawaban akan anda jelaskan pada pertemuan-pertemuan berikutnya atau langsung kerumah yang bersangkutan. Jika anda yakin ada peserta yang lebih tahu, maka mintalah yang bersangkutan untuk membantu menjawab pertanyaan.

d.Pergunakan kosa kata atau tata bahasa sederhana, mudah dimengerti, atau menggunakan kata-kata lokal yang artinya sepadan dengan yang anda maksud.

e.Pahamilah forum dengan baik, berikan lelucon atau pertanyaan pancingan atau bahkan permainan, untuk menjaga perhatian peserta agar tetap konstan terhadap materi yang anda berikan

f.Jangan lupa, pada akhir bicara ucapkan terima kasih atas segalanya, dan mohon maaf jika ada istilah yang menyinggung perasaan peserta.

Hal-hal yang telah diuraikan tadi sifatnya sangat sederhana. Namun seringkali banyak petugas lapangan atau pendamping tidak memperhatikannya karena mempunyai “prasangka”: ”ah itu soal mudah…”. Banyak penyuluhan/pelatihan atau pembahasan yang diberikan kepada masyarakat tidak diketahui maknanya oleh masyarakat karena fasilitator sendiri tidak mau mempersiapkan dengan sungguh-sungguh. Oleh karena keberhasilan memfasilitasi pertemuan tidak hanya disebabkan oleh kemampuan si penerima pesan, tetapi juga disebabkan oleh kemampuan si pemberi pesan untuk mengukur, menilai, memahami dirinya sendiri.

U M P A N B A L I K

Umpan balik merupakan respon, reaksi atau tanggapan yang diberikan oleh penerima informasi kepada pemberi pesan. Umpan balik sangat penting bagi upaya perbaikan komunikasi dalam pertemuan. Kesanggupan untuk memberikan umpan balik ini dipengaruhi oleh sifat kedekatan hubungan antara fasilitator dan masyarakat. Seringkali ditemukan berbagai kesulitan dalam memberikan atau menerima umpan balik karena pengaruh-pengaruh sebagai berikut :
•Kurang pengalaman
•Keragu-raguan karena nilai sosial atau sifat hubungan yang ada
•Keengganan karena kemungkinan resiko yang akan terjadi
•Kekhawatiran dalam memberikan atau menangkap umpan balik karena tata cara atau aturan yang berlaku di dalam organisasi atau sistem kerja.

Berikut ini adalah beberapa pedoman dalam memberi dan menerima umpan balik :

Bagi pemberi :
•Memperlihatkan kesiapan, artinya memberi umpan balik pada mereka yang siap menerima atau yang secara kongkrit memintanya
•Menggambarkan atau memberi fakta dan bukan tafsiran
•Hanya memberi fakta yang jelas, masih hangat atau baru
•Menyesuaikan dengan waktu yang tepat
•Menyangkut hal-hal yang memang dapat diubah
•Jangan ada pretensi keras untuk merubah apa lagi memerintah untuk berubah
•Jangan terlalu banyak hal. Ringkas dan jelas lebih baik
•Siap untuk membantu karena umpan balik anda.

Bagi Penerima
•Menyatakan secara jelas umpan balik apa yang ingin diterima
•Cek kembali apa yang didengar
•Berikan tanggapan terhadap umpan balik yang didengar.
Read More..

Demi Waktu

Setiap bangsa memiliki falsafahnya sendiri tentang waktu. Bangsa Arab misalnya, mempunyai falsafah “al waqtu kash shoif” (waktu ibarat pedang). Maksudnya, kalau kita pandai menggunakan pedang, maka pedang itu akan menjadi alat yang bermanfaat. Tapi kalau tidak bisa menggunakannya, maka bisa-bisa kita sendiri akan celaka. Begitu juga dengan waktu, kalau kita pandai memanfaatkannya maka kita akan menjadi orang yang sukses. Tapi kalau tidak, maka kita sendiri yang akan tergilas oleh waktu.

Sementara orang barat, mempunyai falsafah: “time is money”, waktu adalah uang. Faham ini sangat materialisme. Kesuksesan, kesenangan, kebahagiaan, kehormatan, semuanya diukur dengan materi. Maka mereka akan merasa rugi jika ada sedikit saja waktu yang berlalu tanpa menghasilkan uang. Uang menjadi tujuan hidupnya.

Waktu menurut Al-Qur’an Kalau kita simak, banyak sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang diawali dengan menggunakan kata ‘waktu’. Misalnya wadh dhuha (demi waktu dhuha), wal fajri (demi waktu fajar), wal laili (demi waktu malam), dan masih banyak lagi. Dalam ayat-ayat tersebut Allah bersumpah dengan menggunakan kata waktu. Menurut para ahli tafsir, dengan menggunakan kata waktu ketika bersumpah, Allah swt., ingin menegaskan bahwa manusia hendaknya benar-benar memperhatikan waktu, karena sangat penting dan berharga dalam kehidupan manusia. Dalam surat al-‘Ashr, Allah swt. berfirman: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al-‘Ashr: 1-3).
Dalam surat tersebut ditegaskan bahwa, pada dasarnya semua manusia itu berpotensi menjadi orang yang merugi, baik di dunia maupun di akhirat. Lalu siapakah manusia yang beruntung? Ternyata menurut Al-Qur’an, manusia yang beruntung itu bukanlah yang pangkatnya tinggi atau yang uangnya banyak. Tapi yang beruntung adalah mereka yang beriman, beramal shaleh, dan yang suka menasehati dalam kebenaran dan selalu bersabar.

Waktu adalah ibadah Merujuk surat Al-‘Ashr tersebut, maka konsep waktu menurut Islam adalah: Iman, beramal shaleh, senantiasa menasehati berbuat kebenaran dan bersikap sabar. Keempat kata kunci, yaitu iman, amal shaleh, kebenaran dan kesabaran, kalau boleh kita rangkum dalam satu kata dapat bermakna ‘ibadah’. Jadi konsep waktu menurut Al-Qur’an bermakna ibadah. Hal ini sejalan dengan tujuan dari penciptaan manusia itu sendiri, yakni: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku”. Yang dimaksud dengan ibadah bukan sekedar shalat, puasa, zakat, ataupun haji saja. Melainkan ibadah dalam pengertian luas, yaitu mencangkup seluruh aspek kehidupan, mulai dari bangun tidur, hingga bangun tidur kembali, semuanya harus diisi dengan ibadah kepada Allah swt. Ini sesuai pula dengan komitmen kita yang selalu diucapkan ketika kita melaksanakan shalat: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semata-mata hanya untuk Allah Ta’ala.”
Menurut para ulama, semua perbuatan baik, apabila dilandasi dengan keimanan, serta diniatkan hanya untuk mencari ridho Allah swt, maka itu akan bernilai ibadah. Ibnu Taimiyah mengatakan, “Ibadah adalah nama yang mencangkup segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah swt, baik yang berupa perkataan maupun perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin.”
Maka seorang manusia yang beriman dapat menjadikan pekerjaan dan segala aktifitasnya itu bernilai ibadah apabila didasarkan pada ketentuan-ketentuan syari’at. Dalam hal ini Allah swt. berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nahl: 94)

Jangan Sia-siakan Waktu Oleh karena waktu merupakan hal yang sangat penting dan amat berharga dalam kehidupan manusia, maka janganlah kita menyia-nyiakan waktu jika tidak ingin menjadi orang yang merugi. Sebagai orang beriman, hendaknya kita isi waktu dengan senantiasa beribadah kepada Allah. Janganlah membuang-buang waktu, karena sekali waktu berlalu, dia tidak akan pernah kembali lagi.
Ingatlah pesan Nabi Muhammad saw: “Jadilah engkau di dunia ini seperti seorang musafir atau bahkan seperti seorang pengembara. Apabila engkau telah memasuki waktu sore, janganlah menanti datangnya waktu pagi. Dan apabila engkau telah memasuki waktu pagi, janganlah menanti datangnya waktu sore. Ambillah waktu sehatmu (untuk bekal) waktu sakitmu, dan hidupmu untuk (bekal) matimu.” (H.R. Bukhari). Hadits tersebut mengingatkan kita agar kita selalu mempersiapkan diri dalam menghadapi kehidupan di dunia ini. Seperti halnya seorang pengembara, hendaknya selalu menyiapkan perbekalan.
Selain itu, Hadits ini juga mengingatkan kita agar selalu memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Jangan suka menunda-nunda waktu. Kalau kita ingin berbuat baik, lakukan sesegera mungkin. Jangan menunggu esok hari. Mumpung lagi sehat, berbuat baiklah sebanyak-banyaknya, sebab kalau sudah sakit, kita sulit untuk melakukan sesuatu. Apalagi kalau sudah meninggal, tertutup sudah kesempatan untuk beramal shaleh di dunia.

(sumber: Konsep Waktu Menurut Al-Qur’an, An-Nahl, edisi No. 295/Tahun VI, Shafar 1429 H)
Read More..

Siapa paling jelek ??!

Ada suatu kisah seorang santri yg menuntut ilmu pada seorang Kyai. Bertahun-tahun telah ia lewati hingga sampai pada suatu ujian terakhir. Ia menghadap Kyai untuk ujian tersebut. "Hai Fulan, kau telah menempuh semua tahapan belajar dan tinggal satu ujian, kalau kamu bisa menjawab berarti kamu lulus ", kata Kyai. "Baik pak Kyai, apa pertanyaannya ?" "Kamu cari orang atau mahkluk yang lebih jelek dari kamu, kamu aku beri waktu tiga hari ". Akhirnya santri tersebut meninggalkan pondok untuk melaksanakan tugas dan mencari jawaban atas pertanyaan Kyai-nya.

Hari pertama, sang santri bertemu dengan si Polan pemabuk berat yg dapat di katakan hampir tiap hari mabuk-mabukan. Santri berkata dalam hati, " Inilah orang yang lebih jelek dari saya. Aku telah beribadah puluhan tahun sedang dia mabuk-mabukan terus ". Tetapi sesampai ia di rumah, timbul pikirannya. "Belum tentu, sekarang Polan mabuk-mabukan siapa tahu pada akhir hayatnya Alloh memberi Hidayah (petunjuk) dan dia Khusnul Khotimah dan aku sekarang baik banyak ibadah tetapi pada akhir hayat di kehendaki Suul Khotimah,bagaimana ? Dia belum tentu lebih jelek dari saya.

Hari kedua, santri jalan keluar rumah dan ketemu dengan seekor anjing yg menjijikan rupanya, sudah bulunya kusut, kudisan dsb. Santri bergumam, " Ketemu sekarang yg lebih jelek dari aku. Anjing ini sudah haram dimakan, kudisan, jelek lagi " . Santri gembira karena telah dapat jawaban atas pertanyaan�� gurunya. Waktu akan tidur sehabis 'Isya, dia merenung, "Anjing itu kalau mati, habis perkara dia. Dia tidak dimintai tanggung jawab atas perbuatannya oleh Alloh, sedangkan aku akan dimintai pertanggung jawaban yg sangat berat yg kalau aku berbuat banyak dosa akan masuk neraka aku. "Aku tidak lebih baik dari anjing itu.

Hari ketiga akhirnya santri menghadap Kyai. Kyai bertanya, "Sudah dapat jawabannya muridku ?" "Sudah guru", santri menjawab. " Ternyata orang yang paling jelek adalah saya guru". Sang Kyai tersenyum, "Kamu aku nyatakan lulus".

Pelajaran yg dapat kita petik adalah: Selama kita masih sama-sama hidup kita tidak boleh sombong/merasa lebih baik dari orang/mahkluk lain. Yang berhak sombong adalah Alloh SWT. Karena kita tidak tahu bagaimana akhir� hidup kita nanti. Dengan demikian maka kita akan belajar berprasangka baik kepada orang/mahkluk lain yg sama-sama ciptaan Alloh.
Read More..

Memecahkan Rekor

Memecahkan Rekor Setiap orang yang berhasrat besar untuk menjadi manusia yang lebih baik perlu merenungkan kata-kata Stuart B. Johnson berikut ini: “Urusan kita dalam kehidupan ini bukanlah untuk mendahului orang lain, tetapi untuk melampaui diri kita sendiri, untuk memecahkan rekor kita sendiri, dan untuk melampaui hari kemarin dengan hari ini.” Dalam era hiper kompetisi dewasa ini, bagaimana kita memahami kalimat yang demikian itu? Bukankah kita harus bersaing dengan orang lain, dengan siapa saja yang berusaha mengalahkan kita? Jika demikian cara berpikir kita, maka cerita yang dikirim seorang kawan berikut ini mungkin menarik untuk menjadi bahan renungan.

LOMPATAN SI BELALANG…. .

Di suatu hutan, hiduplah seekor belalang muda yang cerdik. Belalang muda ini adalah belalang yang lompatannya paling tinggi di antara sesama belalang yang lainnya. Belalang muda ini sangat membanggakan kemampuan lompatannya ini. Sehari-harinya belalang tersebut melompat dari atas tanah ke dahan-dahan pohon yang tinggi, dan kemudian makan daun-daunan yang ada di atas pohon tersebut. Dari atas pohon tersebut belalang dapat melihat satu desa di kejauhan yang kelihatannya indah dan sejuk. Timbul satu keinginan di dalam hatinya untuk suatu saat dapat pergi ke sana.

Suatu hari, saat yang dinantikan itu tibalah. Teman setianya, seekor burung merpati, mengajaknya untuk terbang dan pergi ke desa tersebut. Dengan semangat yang meluap-luap, kedua binatang itu pergi bersama ke desa tersebut. Setelah mendarat mereka mulai berjalan-jalan melihat keindahan desa itu. Akhirnya mereka sampai di suatu taman yang indah berpagar tinggi, yang dijaga oleh seekor anjing besar. Belalang itu bertanya kepada anjing, “Siapakah kamu, dan apa yang kamu lakukan di sini?”

“Aku adalah anjing penjaga taman ini. Aku dipilih oleh majikanku karena aku adalah anjing terbaik di desa ini,” jawab anjing dengan sombongnya.

Mendengar perkataan si anjing, panaslah hati belalang muda. Dia lalu berkata lagi, “Hmm, tidak semua binatang bisa kau kalahkan. Aku menantangmu untuk membuktikan bahwa aku bisa mengalahkanmu. Aku menantangmu untuk bertanding melompat, siapakah yang paling tinggi diantara kita.”

“Baik,” jawab si anjing. “Di depan sana ada pagar yang tinggi. Mari kita bertanding, siapakah yang bisa melompati pagar tersebut.”

Keduanya lalu berbarengan menuju ke pagar tersebut. Kesempatan pertama adalah si anjing. Setelah mengambil ancang-ancang, anjing itu lalu berlari dengan kencang, melompat, dan berhasil melompati pagar yang setinggi orang dewasa tersebut tersebut. Kesempatan berikutnya adalah si belalang muda. Dengan sekuat tenaga belalang tersebut melompat. Namun, ternyata kekuatan lompatannya hanya mencapai tiga perempat tinggi pagar tersebut, dan kemudian belalang itu jatuh kembali ke tempatnya semula. Dia lalu mencoba melompat lagi dan melompat lagi, namun ternyata gagal pula.

Si anjing lalu menghampiri belalang dan sambil tertawa berkata, “Nah, belalang, apa lagi yang mau kamu katakan sekarang? Kamu sudah kalah.”

“Belum,” jawab si belalang. “Tantangan pertama tadi kamu yang menentukan. Beranikah kamu sekarang jika saya yang menentukan tantangan kedua?”

“Apa pun tantangan itu, aku siap,” tukas si anjing.

Belalang lalu berkata lagi, “Tantangan kedua ini sederhana saja. Kita berlomba melompat di tempat. Pemenangnya akan diukur bukan dari seberapa tinggi dia melompat, tapi diukur dari lompatan yang dilakukan tersebut berapa kali tinggi tubuhnya.”

Anjing kembali yang mencoba pertama kali. Dari hasil lompatannya, ternyata anjing berhasil melompat setinggi empat kali tinggi tubuhnya. Berikutnya adalah giliran si belalang. Lompatan belalang hanya setinggi setengah dari lompatan anjing, namun ketinggian lompatan tersebut ternyata setara dengan empat puluh kali tinggi tubuhnya. Dan belalang pun menjadi pemenang untuk lomba yang kedua ini. Kali ini anjing menghampiri belalang dengan rasa kagum.

“Hebat. Kamu menjadi pemenang untuk perlombaan kedua ini. Tapi pemenangnya belum ada. Kita masih harus mengadakan lomba ketiga,” kata si anjing.

“Tidak perlu,” jawab si belalang. “Karena, pada dasarnya pemenang dari setiap perlombaan yang kita adakan adalah mereka yang menentukan standar perlombaannya. Pada saat lomba pertama kamu yang menentukan standar perlombaannya dan kamu yang menang. Demikian pula lomba kedua saya yang menentukan, saya pula yang menang.” “Intinya adalah, kamu dan saya mempunyai potensi dan standar yang berbeda tentang kemenangan. Adalah tidak bijaksana membandingkan potensi kita dengan yang lain. Kemenangan sejati adalah ketika dengan potensi yang kamu miliki, kamu bisa melampaui standar dirimu sendiri. Iya nggak sih?”

Cerita sederhana di atas pernah membuat saya malu pada diri sendiri. Ketika masih berumur awal 30-an tahun, betapa sering saya membanding-bandingkan diri saya dengan orang lain. Membandingkan antara profesi saya dengan profesi si Anu, antara pendapatan saya dan pendapatan si Banu, antara mobil saya dengan mobil si Canu, antara kesuksesan saya dengan kesuksesan si Danu, dan seterusnya. Hasilnya? Ada kalanya muncul perasaan-perasaan negatif, seperti iri hati atau kecewa pada diri sendiri, yang menganiaya rasa syukur atas kehidupan. Namun kala yang lain muncul juga semacam motivasi untuk bisa lebih maju dan berusaha lebih tekun agar bisa melampaui orang lain (pesaing?).

Belakangan, saya menemukan cara bersaing yang lebih cocok untuk diri sendiri. Saya mulai mengukur kemajuan saya tahun ini berdasarkan prestasi saya tahun kemarin. Saya tetapkan bahwa tahun ini saya harus lebih sehat dari tahun kemarin; pendapatan dan sumbangan tahun ini diupayakan lebih tinggi dari tahun lalu; pengetahuan yang disebarkan tahun ini ditingkatkan dari tahun silam; relasi dan tali silahturahmi juga direntangkan lebih lebar; kualitas ibadah diperdalam; perbuatan baik dipersering; dan seterusnya. Dengan cara ini, saya ternyata lebih mampu mengatasi penyakit-penyakit seperti iri hati, dengki, dan rasa kecewa pada diri. Berlomba untuk memecahkan rekor pribadi yang baru, melampaui rekor yang tercapai di masa lalu, ternyata menimbulkan keasyikan dan rasa syukur yang membahagiakan.

Mungkin benar kata orang bijak dulu: kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan atas hawa nafsu diri sendiri. Setujukah?

Sumber: Memecahkan Rekor oleh Andrias Harefa.
Read More..

16 Sep 2013

INOVASI FASILITASI

Pengantar

Roh yang bersemayam dalam ruang kesejatian PNPM-MPd, sesuai namanya: Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan, adalah pemberdayaan. Yaitu: Give power to the powerless people. Jelas kiranya bahwa powerless people dimaksud adalah masyarakat perdesaan. Namun, kesalahan dalam memahami dan menterjemahkan pemberdayaan serta kesesatan fasillitasi (para fasilitator), akan memerosotkan derajat PNPM-MPd sebagai program pemberdayaan masyarakat menjadi proyek pembangunan di pedesan dalam pelaksanaan kegiatannya. Bila hal itu terjadi, maka terlalu mahal biaya yang telah dikeluarkan PNPM-MPd selama ini.



Tulisan sederhana ini, berangkat dari anggapan dasar bahwa (ketepatan) fasilitasi menjadi faktor penentu pencapaian keberdayaan masyarakat secara bertahap progresif sebagai hasil pelaksanaan kegiatan PNPM-MPd. Karena itu, penting kiranya untuk merenungkan ulang ‘keberadaan diri sebagai fasilitator’ dan menakar seberapa jauh fasilitasi yang telah dilakukan menghantarkan masyarakat menjadi lebih berdaya. Cara pandng ini, memunculkan berbagai isu krusial seputar fasilitasi, salah satunya: inovasi fasilitasi.
 
Fasilitator: Kearifan memilih
Termasuk dalam jenis  apakah Anda sebagai fasilitator? Anda tidak perlu sibuk membongkar diktat lama untuk mencari bagan klasifikasi jenis atau tipe fasilitator.  Karena secara mendasar, hanya ada dua tipe Fasilitator:  Superman yang konyol atau Suparman yang cerdas. 

Fasilitator jenis Superman yang konyol merasa sebagai orang yang paling mengetahui semua hal ikhwal tentang program (PNPM-MPd), maupun masyarakat. Dengan demikian, Ia layaknya Superman yang merasa harus mengerjakan semua hal dalam pelaksanaan kegiatan program, tak peduli mampu atau tidak mengerjakannya. Ia berpikir segala sesuatu  harus dikerjakan sendiri karena itulah tugas-tugas yang dibebankan program kepadanya. Sekedar contoh, seorang fasilitator (program) dengan ‘gagah berani’ menjadi pelatih yang menceramahkan tentang RPJM Desa, sementara  Ia sendiri belum cukup memahami RPJM Desa. Hal itu dilakukan dengan penuh tanggungjawab karena merasa itu adalah tugas dan tanggungjawab fasilitator. Tentu saja Superman model ini hanya menghsilkan kekonyolan.  Fasilitator PNPM-MP sesungguhnya diminta menjadi Suparmen yang cerdas. Artinya, setiap fasilitator PNPM-MPd adalah ‘orang biasa’ dengan segenap kelebihan dan kekurangannya. Ia datang ditugaskan program untuk menjadi kawan yang memudahkan masyarakat melakukan berbagai kegiatan guna mendayagunakan potensi yang dimiliki untuk mengatasi masalah yang dihadapi.  

Suparmen yang cerdas bukan orang yang mengerjakan semua tugas, karena Ia menyadari kekurangan dan keterbatasannya. Namun, dengan ‘kecerdasannya’, Ia  tahu siapa yang mampu mengerjakan serta dapat mempengaruhi agar semua tugas itu dikerjakan.
Menjadi Fasilitator, dengan demikian adalah soal kearifan memilih menjadi: Superman yang konyol atau Suparmen yang cerdas.

Fasilitasi
Memahami untuk Membebaskan.
Fasilitasi adalah proses memahami untuk membebaskan. Apa yang harus dipahami? Substansi dari setiap gagasan dan rancangan tindakan. Dengan memahami itu, kemudian bergerak untuk memberikan kebebasan kepada masyarakat agar mengakutualisasikan diri, mendayagunakan potensi yang dimiliki dan mengatasi masalah-masalah yang dihadapi. Bila fasilitator gagal memahami substansi dimaksud, Ia tidak akan pernah dapat membebaskan, tetapi justru  menjebak masyarakat dalam formalitas yang tak berguna.
Contoh kasus: Papan informasi. Di seluruh Indonesia, tidak banyak papan informasi yang berguna, karena memang tidak didayagunakan sebagaimana mestinya. Memang, pernah terjadi pada suatu kurun yang singkat, papan informasi mendapat perhatian para pelaku. Namun hal itu bukan karena kesadaran dan kebutuhan akan pentingnya papan informasi, tetapi lebih karena ancaman PHK kepada para fasilitator yang tidak mengelola dengan baik papan informasi. Ancaman ini, tampaknya akan diterapkan kembali. Ditilik dari desakkan PSF-WB untuk memasukkan secara jelas dan tegas ‘papan informasi’ ini sebagai indikator penilaian kinerja. Mengapa harus demikian? Kiranya tak ada penjelasan  yang lebih sahih selain: tidak dipahaminya substansi yang ada dibalik papan informasi. Fasilitator pada umumnya memahami papan informasi sebagai selembar triplek yang dipancangkan sedemikian rupa untuk kemudian ditempeli beberapa lembar kertas dan coretan secukupnya. Tentu saja itu pekerjaan yang dirasa aneh tak berguna. Tetapi, karena program mewajibkan, apalagi disediakan dana untuk membuatnya, maka dibuatlah papan itu, sekedar untuk menggugurkan salah satu kewajiban fasilitator. Tentu akan lain ceritanya, bila fasilitator menerima kewajiban mengelola papan informasi dengan memahami substansinya sebagai perwujudan transparansi dan akuntabilitas: memudahkan masyarakat memperoleh informasi kapan saja dan ‘dimana saja’ sebagai pemenuhan hak masyarakat untuk mendaptkn informasi sekaligus wujud pertanggungjawaban kepada publik. Dari perspektif ini, logika PSF-WB bahwa papan informasi tidak berfungsi sebagai akibat dari ketidakpahaman fasilitator tentang transparansi dan pentingnya kontrol publik kiranya dapat dimengerti. Walaupun, terjemahan transparansi itu, dalm konteks inovasi fasilitasi, tidak harus dan melulu papan informasi. Berkutat pada persoalan papan informasi yang senyatanya memang belum selesai di lapangan, menunjukkan berbagai masalah, salah satunya tidak terjadi inovasi fasilitasi.

CB bukan Membangun  Jembatan.
Fasilitasi adalah proses peningkatan kapasitas (masyarakat). Dengan demikian, apa saja yang terjadi dan dihasilkan dalam pelaksanaan kegiatan, seharusnya sebagai akibat dari meningkatnya kapasitas masyarakat setelah melalui proses fasilitasi. Sebuah jembatan yang bagus dari segi kualitas fisik, tidak ‘berarti banyak’ apabila bukan sebagai akibat dari meningkatnya kapasitas masyarakat dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan jembatan dimaksud. Perlu direnungkan sejauh mana fasilitasi yang dilakukan para fasilitator PNPM-MPd telah mencapai hal itu. Semakin terampilkah masyarakat menyusun RAB dan menggambar desain? Benarkah fasilitasi kita telah berhasil meningkatkan pengorganisasian masyarakat untuk mengembanglestarikan hasil-hasil kegiatan? Apakah masyarakat semakin mandiri dalam pengambilan keputusan atau semakin tergantung pada fasilitator?, …… 

Lalu, bagaimana fasilitasi sebagai proses CB (capacity building) itu berlangsung selama ini? Contoh kasus: pelatihan masyaarakat. Masyarakat di berbagai desa menjelang muntah karena sudah tiga tahun berturut-turut mengikuti pelatihan yang sama dan dilatih oleh orang yang sama dengan materi dan selingan banyolan yang sama pula. Umumnya fasilitator menterjemahkan CB sebagai pelatihan dan pelatihan berarti mengumpulkan sejumlah orang dalam satu ruangan untuk diceramahi. Tapi hasilnya luar biasa: semua desain digambar dengan autocat. Contoh kasus ini menunjukkan dua hal: tidak ada pemberdayaan dan tidak ada inovasi fasilitasi.

‘Memainkan’ bukan Mengerjakan!
Fasilitasi adalah proses  ‘memainkan’. Yaitu mengatur,  mendayagunakan serta mengembangkan potensi yang ada dalam masyarakat: SDM, nilai-nilai sosial budaya setempat, dinamika masyarakat, dll, dalam pelaksanaan kegiatan program. Dengan demikian, fasilitasi lebih sebagai proses mengidentifikasi, mempengaruhi, menunjukkan dan menggerakkan. Namun, kasus yang secara umum terjadi adalah fasilitasi adalah mengerjakan, sehingga fasilitator menjadi orang yang mengerjakan semua hal. Fasilitator memandu musyawarah, melatih, memimpin rakor, monitoring, menangani masalah, membuat RAB dan desain, bahkan di banyak tempat, juga mengatur-atur pelelangan, ……


PTO: Penjara yang mengungkung?
Adalah benar bahwa setiap tindakan yang dilakukan fasilitator PNPM-MPd harus mengacu dan sesuai dengan PTO. Namun, tidak dapat dibenarkan juga bila PTO dihadapan para fasilitator menjadi rumusan yang mengatur secara kaku apa yang harus dilakukan fasilitator. Walaupun, pada kenyataannya, PTO cenderung dipahami sebagai teks yang mengatur langkah dan tindakan mekanistik. Maka ketika terjadi perubahan kebijakan (misal: optimalisasi, integrasi), tergagap-gagap kita merespon perubahan itu. PTO telah menjadi semacam penjara yang mengungkung fasilitator. Hal itu terjadi karena kita mencerna PTO sebagai prosedur dan mekanisme, bukan substansinya. Kondisi demikian tentu saja tidak akan mendorong munculnya inovasi fasilitasi. 

Inovasi : Tafsir, Ide dan Tindakan
Hal pokok dari inovasi adalah kebaruan. Memang, sulit kiraya dewasa ini kita memunculkan hal yang benar-benar baru. Namun, dalam konteks fasilitasi terbuka peluang untuk memunculkan sesutu yang memiliki nilai kebaruan. Kebaruan tersebut bisa dalam hal tafsir atas teks (PTO), ide-ide, konsep, metode atau pada tataran tindakan. Tentu saja nilai kebaruan tersebut harus memiliki arti dan dampak positif bagi pelaksanaan dan pencapaian tujuan program.
Dalam pelaksanaan kegiatan PNPM-MPd beberapa tahun terakhir ini, kita bisa temukan beberapa konsep dan kebijakan yang cukup inovatif, misalnya RBM, TPM, dll. Boleh jadi di tempat lain, sudah ada kegiatan seperti itu, tetapi dalam konteks pengembangan kegiatan CB dalam PNPM-MPd, hal itu memiliki nilai kebaruan. Pada dasarnya, semua aspek dan kegiatan PNPM-MPd memiliki ruang terbuka bagi inovasi. Memang cukup aneh, ketika, misalnya, kegiatan pembangunan sarana prasarana, sudah sampai pada ‘titik jenuh’, sehingga semakin banyak kegiatan remeh temeh (rabat gang, dll), yang didanai, tetap saja belum muncul jenis kegiatan yang memiliki nilai kebaruan, misalnya: pembangunan objek wisata desa. PNPM-MPd tentu saja sudah mendanai sangat banyak pembangunan jalan desa. Namun belum ada contoh dimana kegiatan pembangunan jalan desa menyertakan kewajiban menanam pohon di pinggir kiri kanan jalan tersebut. Hal itu tampaknya menunjukkan kemandegan inovasi gagasan.
Contoh lain, aktivitas sosialisasi, edukasi dan informasi. Umumnya yang dilakukan tidak lebih dari pelaksanaan MD dan MAD Sosialisasi, yang selalu dilakukan di awal kegiatan, karena itu menjadi salah satu tatahap kegiatan yang ditetapkan dalam PTO dan menempati urutan pertama dalam Protak. Akibatnya, sosialisasi, edukasi dan informasi tidak lebih dari MD dan MAD Sos. Apakah aneh, bila, misalnya, agenda kegiatan dan hal-hal penting dalam pelaksanaan PNPM-MPd diumumkan di masjid?
Kesimpulannya adalah diperlukan inovasi dalam pengelolaan kegiatan program. Terutama inovasi pada tataran metode dan tindakan pelaksanaan kegiatan. Itu berarti diperlukan inovasi fasilitasi. Karena, fasilitasi (pelaksanaan kegiatan program) berada dalam lingkungan yang dinamis: tuntutan baru, perubahan kebijakan, dll. Seiring dengan itu, masyarakat yang difasilitasi juga berubah secara dinamis. Perlu juga disebutkan bahwa tidak merasa super,   menjadi pemicu munculnya inovasi. Menyadari kekurangan dan keterbatasan diri, mendorong pencarian cara, gagasan, tindakan inovatif. Sebagai penutup, tidak berlebihan kiranya dinyatakan tanpa inovasi fasilitasi, maka kita akan menjadi sejenis robot murung, yang menenteng pekerjaan  memandu masyarakat. 
Read More..

FASILITASI MUSYAWARAH

Apa musyawarah ?
Musyawarah dalam pertemuan adalah suatu alat atau cara yang ampuh untuk membahas dan menyelesaikan suatu pokok bahasan ataupun permasalahan yang dihadapi masyarakat, baik yang bersumber dari individu maupun lembaga atau organisasi, yang melibatkan semua pihak yang berkepentingan dalam suatu rembug bersama–sama sebagai pribadi–pribadi yang peduli terhadap selesainya permasalahan atau disepakatinya suatu topik bahasan.

Mengapa musyawarah warga ?

Musyawarah warga perlu dilakukan, karena melalui musyawarah kebenaran berkenaan dengan permasalahan yang dihadapi dapat diungkapkan dan menjadi jelas sehingga peserta musyawarah mendapat bimbingan untuk mengambil keputusan dan lengkah – lengkah yang tepat. Selain itu, musyawarah warga adalah cermin yang utuh dari konsistensi penerapan prinsip-prinsip pembangunan partisipatif, yakni partisipasi, demokrasi, transparansi, akuntabilitas dan desentralisasi.

Bagaimana Mendorong Sikap Peserta Musyawarah Warga ?

Musyawarah warga akan lancar dan berhasil, jika mampu mendorong semua peserta musyawarah berpartisipasi aktif dengan sikap yang baik. Selain itu, Fasilitator diharapkan juga mampu mendorong tiap peserta untuk menganggap bahwa melakukan musyawarah adalah sebagai tugas mulia dalam menyelesaikan suatu permasalahan atau menyepakati suatu pokok bahasan.

Fasilitator diharapkan dapat mengarahkan peserta musyawarah agar bersikap:


  • Sopan
  • Ikhlas tanpa pamrih
  • Rendah hati
  • Sabar
  • Menghargi perbedaan
  • Menghargai pendapat orang lain
  • Jujur terhadap diri sendiri dan orang lain
  • Adil terhadap diri sendiri dan orang lain
  • Berupaya memahami terkebih dahulu
  • Kesetaraan

Tidak boleh menganggap diri sebagai wakil dari suatu kelompok atau golongan, sehingga hanya berjuang untuk kepentingan kelompoknya saja.
Masing-masing pihak adalah sesama manusia (pribadi yang bebas ) yang berkepentingan dengan selesainya permasalahan secara objektif dan adil.

Hal lain yang juga sangat penting adalah mendorong agar semua peserta musyawarah warga harus berupaya mewujudkan persatuan dan keselarasan berpikir dan harus selalu fokus pada tujuan musyawarah, yakni mencari kebenaran dan menemukan penyelesaian yang terbaik.

Bagaimana Mendorong Bermusyawarah yang Baik ?
Beberapa hal atau prinsip yang sangat penting diterapkan ketika bermusyawarah, yaitu:
  1. Menyatakan dengan jelas permasalahan yang akan dibahas
  2. Mencoba mengenali nilai – nilai kemanusiaan yang berkaitan dengan permasalahan tersebut, supaya semua diskusi lebih tertuju ke arah pemecahan yang praktis, manusiawi dan dapat dilaksanakan.
  3. Mendiskusikan permasalahan secara tuntas : yakni para peserta harus dengan bebas dan berterus terang menyampaikan pendapat masing – masing
  4. Tiap peserta bernggung jawab dalam membina suasana musyawarah
  5. Semua peserta wajib secara aktif mengambil keputusan atas penyelesaian permasalahan setelah diskusi dianggap cukup atau selesai dan permaslaahan menjadi jelas.

Bagaimana Sikap Peserta Setelah Keputusan Musyawarah Dihasilkan ?
Setelah keputusan musyawarah dihasilkan, keputusan itu harus didukung penuh oleh semua orang terutama oleh mereka yang justeru tidak sependapat dengan keputusan tesebut sewaktu musyawarah.

Sebaliknya jika keputusan yang telah dihasilkan dalam pelaksanaannya ternyata ditentang dan tidak didukung, atau bahkan disabot oleh sebagian orang yang memang tidak setuju dengan keputusan tersebut sejak dalam musyawarah, maka akan menjadi sulit untuk diketahui apakah kegagalan untuk menyelesaikan permasalahan tesebut, disebabkan oleh keputusan yang salah ataukah oleh adanya sabotase atau penentangan. Oleh karena itu akan lebih baik jika ada kesatan sikap dalam bertindak melaksanakan hasil musyawarah.

Pengambilan keputusan melalui voting atau pemungutan suara dalam musyawarah hanya baik dilakukan bila telah tercapai kesamaan pemahaman mengenai persoalan yang dihadapi. Meskipun demikian keputusan melalui mufakat ( yang dilandasi kesadaran kritis ) dalam musyawarah warga harus tetap diutamakan karena tidak saja menunjukkan tingkat demokrasi yang tertinggi tetapi juga peradapan manusia yang terluhur.

Read More..

Template by : TraffoX TEKKOM IPB